Hey, I’m Back with A Slice of My Life!

Apa kabar, duhai dunia blogger?

Saya kembali dengan sepenggal ketidakjelasan LOL

Sekilas, orang akan mengira saya adalah orang yang teramat rajin. Ya, maklum saja, imej saya sebagai pekerja keras itu masih melekat. Terima kasih kepada kaca mata yang bisa secara drastis membuat diri ini tampak sebagai orang rajin. Kenyataannya?

Menilik setahun ke belakang–saya rasa hal ini pernah dituliskan di blog ini entah di postingan berjudul apa–saya seperti berada di sebuah akhir satu tahapan kehidupan. Saya muda menghabiskan waktu untuk mengejar impian–belajar di kampus terbaik di dunia. Setahun silam, saya berhasil menggenggam impian tersebut, kemudian saya pun bertanya-tanya. Apa lagi? Apa lagi selanjutnya? Continue reading

Advertisements
Posted in My Corner, Uncategorized | Leave a comment

Stanage Edge

A very late post!

It was on my 24th birthday at September 1, 2016! Stanage Edge is where Keira Knightley filmed one of the scenes from Pride and Prejudice. We took the train from Manchester to Hathersage Station and walked along uphil until we reached this place. Tiring but really worth it!

I was actually only tagged along to join this trip lol Such a pleasant experience though because it was right after we (finally) submitted the dissertation.

IMG_0008IMG_0025IMG_0029IMG_0065IMG_0072IMG_0078IMG_0079

Posted in Traveling | Leave a comment

Perempuan, Pekerjaan, dan (Diskriminasi) Status Perkawinan

Tulisan ini tidak akan seserius judulnya. Hanya sekadar apa yang saya pikirkan setelah beragam obrolan dengan banyak orang selama beberapa bulan terakhir. Tentang perempuan. Khususnya perempuan yang masih sendiri.

Ternyata, bagi perempuan-perempuan kampong yang pekerjaan impiannya ada di luar kota, memutuskan untuk merantau tidaklah mudah. Memutuskan untuk tinggal menetap di suatu kota, adalah tantangan yang membutuhkan perhitungan matang. Terutama, ketika perempuan bersangkutan telah bertahun-tahun menghabiskan waktu merantau.

Pertimbangannya bermacam-macam, tetapi ada dua hal yang paling banyak disebut. Pertama, ketika sudah terlalu lama merantau, kami para perempuan akan mengerti, bahwa pulang adalah hal yang sangat istimewa. Sekali pulang setelah perjalanan jauh, sulit rasanya untuk mau pergi lagi.

Kedua, teristimewa untuk perempuan single dari kampung, terkadang memutuskan untuk mengejar karier tertentu berarti memutuskan pindah kota dan berkomitmen terhadap pekerjaan tersebut.

Kadang, saya dan beberapa orang yang saya ajak bicara, berpikir,”bagaimana jika kita sebenarnya tidak ingin tinggal selamanya di kota itu? Bagaimana jika suatu saat kita memilih berkeluarga dan meninggalkan karier? Apakah itu berarti, karier seorang perempuan yang berkeluarga hanya bersifat sementara?”

Tentang yang pertama, saya sangat paham. Ya, bagi saya pun, memutuskan akan pergi ke mana lagi adalah hal yang teramat sulit. Sebagai anak yang kehilangan seorang ibu ketika sedang berada jauh di benua lain, saya sangat mengerti rasanya enggan berjauhan lagi dari keluarga. Orang lain pun paham soal ini, saya rasa.

Tentang yang kedua, saya juga sedikit-banyak mengerti. Sulit untuk memutuskan untuk pindah ke mana ketika ada bayangan kelak si perempuan akan menikah dan memilih mengikuti ke mana pun suaminya pargi. Mmm, bukan berarti ini cerita saya. Saya hanya bilang, saya mengerti.

Sebenarnya, tidak ada yang salah soal perempuan memilih berkomitmen terhadap suatu pekerjaan permanen sebelum menikah. Setiap orang bebas bermimpi. Apalagi kalau belum tahu mereka akan menikah kapan. Mengapa harus menyerah pada impian ketika waktunya berhenti pun belum tiba?

Namun, sering saya mendengar dari sana-sini. Hanya mendengar, karena saya sendiri belum pernah mengalaminya. Banyak saya dengar, perempuan yang statusnya belum kawin, sering dipertanyakan komitmennya ketika mendaftar pekerjaan. Banyak organisasi yang lebih memilih perempuan yang sudah “settle down” daripada perempuan single yang ada kemungkinan akan dibawa suaminya entah ke mana.

Intinya, organisasi tidak mau ‘rugi’ sudah merekrut orang, tetapi orang itu nantinya akan mengundurkan diri. Banyak yang seperti itu, katanya. Terutama kalau organisasi tersebut berada di kota kecil.

Saya kok jadi sedih mendengar ada hal begitu. Ini ‘kan, dalam taraf tertentu, merupakan diskriminasi atas status perkawinan? Diskriminasi yang tidak disebut diskriminasi karena yang mencari kerja memiliki sekian hal yang bisa dijadikan alasan untuk menolak lamaran kerja seorang perempuan single.

Diskriminasi yang dianggap wajar, lalu mendapat sebutan manis: hanya soal “preference”, kata seorang teman. Kelak, jika sudah diterima jadi pegawai, melarang mengundurkan diri itu menyalahi aturan ketenagakerjaan, tetapi menolak seseorang jadi pegawai adalah kewenangan perusahaan. Katanya begitu.

Entah benar atau tidak, saya hanya berharap, ada keadilan bagi perempuan single. Mengutip curhatan seorang teman entah berapa bulan silam,“mengapa mereka memasang muka masam ketika mendengar jawaban saya bahwa saya belum memiliki rencana menikah? Memangnya mereka mau merekrut suami saya, bukan saya?”

Semoga yang begitu tidak terjadi lagi. Setidaknya, tidak dalam institusi publik yang didanai oleh uang rakyat (walaupun institusi swasta pun seharusnya tidak begitu).

Kembali ke soal perempuan, ternyata dalam memilih pekerjaan ada banyak sekali pertimbangannya ya. Bukan sekadar soal uang. Bukan asal gajinya tinggi. Bukan yang penting sesuai impian. Ternyata ada juga pertimbangan jarak dari rumah, keberanian untuk berkomitmen terhadap suatu pekerjaan, dan kemungkinan menghadapi diskriminasi terhadap status perkawinan. Selain yang terakhir, sepertinya ini berlaku bagi laki-laki juga sih.

Sudah! Ini bukan essay kaaaan, hanya sekadar pikiran numpang lewat macam ini. Jadi, maafkan kalau ini tulisan tidak jelas sekali.

Oh ya, saya menemukan hal lucu belakangan ini. Kok tiba-tiba jadi banyak orang yang tanya saya kerja di mana. Kalau saya jawab, saya masih di rumah, kok tiba-tiba mereka mengasihani saya? Kok tiba-tiba mereka jadi bersemangat menyuruh saya cari kerja?

Seolah-olah adalah ‘aib’ kalau saya tidak kerja kantoran. Sori, Bos, sejak zaman saya masih berwujud penyihir cantik sampai bereinkarnasi jadi makhluk sekarang ini, I always make my own decision! Dan untuk sekarang, saya belum ingin merantau jauh dari rumah.

Ada sebuah impian, yang belum pernah saya hidupi. Belum pernah benar-benar saya jadikan prioritas utama dalam hidup. Saya pikir, sebelum semakin menua dan idealisme terpupus usia, saya harus berani memutuskan untuk mengejar impian itu. Saya khawatir, ketika saya jadi orang kantoran, saya akan kehilangan semangat meraih impian itu.

Selain enggan jauh dari keluarga, hanya ini alasan saya belum pernah sekali pun daftar kerja kantoran:

Saya belum yakin saya tahan dengan godaan kemapanan. Saya takut kemapanan akan memupus kreativitas, semangat belajar, dan idealisme saya.

Continue reading

Posted in My Corner, Serba-Serbi, Uncategorized | Leave a comment

[Review] Go Set A Watchman – Harper Lee

Go Set A Watchman mematahkan hati dan merenggut ‘cinta pertama’ seorang anak. Sepertinya itulah kalimat paling tepat untuk menggambarkan sequel dari karya populer Harper Lee, To Kill A Mockingbird ini.

Go Set A Watchman, seperti pendahulunya, menjadikan Jean Louis ‘Scout’ Finch sebagai tokoh utama. Bedanya, di novel ini, Scout bukan lagi bocah melainkan perempuan dewasa.

Saya bukan mau cerita apa isi buku tersebut, silakan baca sendiri kalau mau tahu. Mmmm, sebenarnya saya sudah tidak terlalu ingat detailnya lagi. Baru baca Oktober lalu tapi pikiran saya terlalu semrawut untuk mengingat satu buku dengan akurat (excuse, I know). Continue reading

Posted in Book Reviews, Reviews, Uncategorized | Leave a comment

Breakout atau Purging?

Kayaknya belum lama aku posting soal muka yang jerawatan. Kupikir tadinya itu breakout, bukan purging. Soalnya kan purging biasa terjadi kalau ganti produk perawatan kulit, sedangkan jerawat aku muncul ketika aku pakai skincare biasanya. Makanya, kupikir solusinya adalah ganti skincare ke produk ramah kulit (kupilih produk Nuxe karena kebanyakan reviewnya positif). Kan, katanya, kulit bisa mabok juga kalau kelamaan pakai produk yang sama dalam waktu lama.

Ya, kupikir itu breakout, sampai tadi sore aku baru sadar barangkali ini hanya purging. Pasalnya, aku baru ingat kalau bulan Desember, aku ngabisin pakai produk Wardah White Secret Intensive Brightening Essence. Ngabisin yang udah lebih dari 6 bulan gak aku pakai, karena sayang kalau gak dipakai keburu expired (setahun setelah dibuka, bukan expired tanggal produksi). Continue reading

Posted in Beauty, Uncategorized | Leave a comment

What’s wrong with my skin?

What’s wrong with my skin?

Itu beneran pertanyaan yang aku ajukan waktu sadar tiba-tiba kulit wajahku jerawatan. Is it even a big deal, you ask? I say, it is. Pasalnya, aku jarang banget jerawatan. Bahkan pas remaja, waktu-waktunya orang banyak jerawatan karena pengaruh hormonal, aku gak jerawatan juga. Jadi waktu dua bulan ini tiba-tiba tiap hari (dan banyak banget) jerawat bermunculan, aku jadi heran sendiri. Kok bisa?

Jerawat di mukaku dua bulan ini termasuk ‘spesies’ whitehead. Spesies ini memiliki ‘fenotipe’ kecil-kecil dengan satu titik putih di tengahnya. Lifespan spesies ini tidak lama, paling hanya 2-3 hari, tapi begitu ia mengering, ia akan disusul oleh kemunculan teman-temannya. Ini pertama kali mukaku hampir penuh jerawat. And you still ask me is it a big deal? Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Upcoming Blog Post: Beauty Review?

Belakangan kepikiran buat nulis review beauty products. Bukan ada niatan mau jadi anak gaul macam beauty blogger kece sih, cuma karena lagi gak ada ide nulis aja. Yeah. My brain ‘doesn’t work’ properly (sorry, dear brain, I know it’s not your mistake but I don’t want to blame my laziness). Kedua, karena kalau mau belanja skincare atau makeup, aku sering baca blog orang dan bermanfaat banget loh review mereka. So, aku jadi merasa perlu nulis review juga, sebagai ucapan terima kasih. Kali aja review aku nanti juga bakal berguna buat orang lain.

Berikut daftar review produk yang (saat ini) kepikiran mau aku tulis.

Continue reading

Posted in Beauty, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Titik Nol

Lama tak mengisi blog ya? Duh sampai lumutan ini blog lama tak dihuni tuan rumahnya! Ada berbagai alasan kenapa selama ini jarang bisa menulis. Yang paling jelas sih, belakangan ini saya lebih ‘sibuk’ dengan pikiran. Mengutip istilah teman, saya seperti sedang berada dalam situasi antiklimaks dari sebuah siklus kehidupan. Artinya, untuk menjadi muda dan bergairah seperti sedia kala, saya perlu menemukan tujuan baru. Kehidupan yang baru. Memulai hal baru. Semacam, merasakan perasaan terlahir kembali LOL Continue reading

Posted in My Corner, Uncategorized | Leave a comment

[Review] Belanja Kopi Asli di Otten Coffee: Best Customer Care

Ada syarat penting bagi pecinta kopi kalau mau terus sehat bersama kopi: jauhi kopi instan! Minumlah kopi sebenar-benarnya kopi (asli maksudnya). Kalau mau rasa lain, bisa kok diracik sendiri, seperti ditambah susu, krim, etc.

Setelah menghabiskan kopi arabika Uganda yang saya beli langsung di Kampala, ibukota Uganda, saya merasa bersalah karena terlalu menikmati kopi Afrika. Karena itu, bulan November lalu kalau tidak salah, saya berencana mencicipi kopi arabika dari berbagai daerah di Indonesia. Dimulai dari arah barat. Continue reading

Posted in Culinary, Reviews, Uncategorized | 1 Comment

[Pictures] North Wales – United Kingdom

Perjalanan di musim semi (akhir Maret) 2016 tapi masih saja berjumpa dengan salju! Dilakukan setelah menyelesaikan perjalanan ke Afrika dalam rangka fieldwork. This is what supposed to be Spring Break!

Wales keren banget view-nya, sayang lagi-lagi foto ini cuma diambil dari kamera hape 8 megapiksel hiks…

20160328_120754

20160328_121355

Menai Bridge – Isle of Anglesey

20160328_153747

A village with the longest name in the Europe

Continue reading

Posted in Traveling, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment