Hey, I’m Back with A Slice of My Life!

Apa kabar, duhai dunia blogger?

Saya kembali dengan sepenggal ketidakjelasan LOL

Sekilas, orang akan mengira saya adalah orang yang teramat rajin. Ya, maklum saja, imej saya sebagai pekerja keras itu masih melekat. Terima kasih kepada kaca mata yang bisa secara drastis membuat diri ini tampak sebagai orang rajin. Kenyataannya?

Menilik setahun ke belakang–saya rasa hal ini pernah dituliskan di blog ini entah di postingan berjudul apa–saya seperti berada di sebuah akhir satu tahapan kehidupan. Saya muda menghabiskan waktu untuk mengejar impian–belajar di kampus terbaik di dunia. Setahun silam, saya berhasil menggenggam impian tersebut, kemudian saya pun bertanya-tanya. Apa lagi? Apa lagi selanjutnya? Continue reading

Posted in My Corner, Uncategorized | Leave a comment

Stanage Edge

A very late post!

It was on my 24th birthday at September 1, 2016! Stanage Edge is where Keira Knightley filmed one of the scenes from Pride and Prejudice. We took the train from Manchester to Hathersage Station and walked along uphil until we reached this place. Tiring but really worth it!

I was actually only tagged along to join this trip lol Such a pleasant experience though because it was right after we (finally) submitted the dissertation.

IMG_0008IMG_0025IMG_0029IMG_0065IMG_0072IMG_0078IMG_0079

Posted in Traveling | Leave a comment

[Review] Go Set A Watchman – Harper Lee

Go Set A Watchman mematahkan hati dan merenggut ‘cinta pertama’ seorang anak. Sepertinya itulah kalimat paling tepat untuk menggambarkan sequel dari karya populer Harper Lee, To Kill A Mockingbird ini.

Go Set A Watchman, seperti pendahulunya, menjadikan Jean Louis ‘Scout’ Finch sebagai tokoh utama. Bedanya, di novel ini, Scout bukan lagi bocah melainkan perempuan dewasa.

Saya bukan mau cerita apa isi buku tersebut, silakan baca sendiri kalau mau tahu. Mmmm, sebenarnya saya sudah tidak terlalu ingat detailnya lagi. Baru baca Oktober lalu tapi pikiran saya terlalu semrawut untuk mengingat satu buku dengan akurat (excuse, I know). Continue reading

Posted in Book Reviews, Reviews, Uncategorized | Leave a comment

Titik Nol

Lama tak mengisi blog ya? Duh sampai lumutan ini blog lama tak dihuni tuan rumahnya! Ada berbagai alasan kenapa selama ini jarang bisa menulis. Yang paling jelas sih, belakangan ini saya lebih ‘sibuk’ dengan pikiran. Mengutip istilah teman, saya seperti sedang berada dalam situasi antiklimaks dari sebuah siklus kehidupan. Artinya, untuk menjadi muda dan bergairah seperti sedia kala, saya perlu menemukan tujuan baru. Kehidupan yang baru. Memulai hal baru. Semacam, merasakan perasaan terlahir kembali LOL Continue reading

Posted in My Corner, Uncategorized | Leave a comment

[Pictures] North Wales – United Kingdom

Perjalanan di musim semi (akhir Maret) 2016 tapi masih saja berjumpa dengan salju! Dilakukan setelah menyelesaikan perjalanan ke Afrika dalam rangka fieldwork. This is what supposed to be Spring Break!

Wales keren banget view-nya, sayang lagi-lagi foto ini cuma diambil dari kamera hape 8 megapiksel hiks…

20160328_120754

20160328_121355

Menai Bridge – Isle of Anglesey

20160328_153747

A village with the longest name in the Europe

Continue reading

Posted in Traveling, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

[Pictures] University of Oxford

Saya kuliah di jurusan International Development di University of Manchester. Di bidang ini, kampus saya sendiri termasuk sangat ternama. Tapi nama besar Oxford tetaplah membuat saya mengunjunginya…

Kampusnya keren sekali loh -_-

Diambil awal musim gugur 2015, masih dengan kamera hape yang cuma 8 megapiksel #nangisdipojokan

20151031_150553

Kalau tidak salah ini Christchurch College, salah satu college terbesar dan terpopulernya Univesity of Oxford

20151031_16045320151031_16050320151031_16134820151031_16171020151031_16173420151031_161914

Posted in Traveling, Uncategorized | Leave a comment

[Pictures] Warwick Castle – England

Saya jarang jalan-jalan selama kuliah di Inggris, jadi saya memang tidak punya banyak foto. Tapi, setelah mengumpulkan coursework, biasanya saya menghadiahi diri dengan sedikit liburan.

Ini jalan-jalan pertama saya dulu selama di Inggris, kalau tidak salah setelah mengumpulkan coursework pertama saya. Waktunya? Akhir musim panas 2015 atau awal musim gugur.

Pemandangannya bagus, tapi sayang hanya diambil dari kamera hape Samsung saya yang cuma 8 megapiksel. Saking bagusnya pemandangan aslinya, dengan kamera hape ala kadarnya saja hasil jepretannya masih cukup oke…

20151031_11511920151031_11531620151031_12204420151031_12213020151031_12301620151031_12302820151031_12354120151031_12412720151031_125116

Posted in Traveling | Tagged , , , , | Leave a comment

Disertasi: Antara Cinta dan Benci

31 Agustus 2016 adalah pagi pertama tahun ini di mana saya terbangun tanpa ada satupun catatan tentang kuliah. Biasanya, setiap pagi, di benak saya sudah terdaftar akan melakukan apa hari itu: mencari jurnal tentang apa, meminjam buku mana, membaca berapa, menulis bagian mana, dll. Hari ini, untuk kali pertama, tidak ada satu pun catatan semacam itu tertinggal. Lega, bersyukur, bahagia. Tuntas sudah kewajiban kuliah, tinggal menunggu kuasa-Nya akan hasilnya nanti.

Continue reading

Posted in Scholarship, Uncategorized | Tagged , , , , , , , | 2 Comments

Keluar dari Zona Nyaman

Kata orang terdekat, saya manusia agak-agak anti-kemapanan. Mungkin karena saya punya hasrat kuat untuk mencoba hal-hal baru. Keluar dari zona nyaman, mencari tantangan baru, melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan. Intinya, menantang diri sendiri melakukan hal-hal baru yang belum tahu akan bisa kita atasi atau tidak! Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Memilih Jurusan Kuliah?

Tiba-tiba ingin menulis tentang memilih jurusan kuliah, terinspirasi dari petualangan adik saya. Ia mengalami apa yang saya dulu alami; tadinya ingin kuliah Sosiologi tapi dapatnya Manajemen, seperti saya dulu, berencana masuk Hubungan Internasional tapi akhirnya mendarat di Ilmu Administrasi Negara (untung masih mirip, satu rumpun).

Dalam keluarga saya, tidak ada fanatisme terhadap jurusan tertentu. Tidak ada pandangan, anak pandai kalau SMA harus masuk IPA, kalau kuliah harus jurusan yang terkenal susah masuknya. Keluarga juga tidak mengharuskan pilihlah jurusan yang peluang kerjanya lebih besar. Yang ditekankan hanya satu, pilihlah jurusan yang paling disukai. Jurusan yang sanggup kamu jalani. Soal setelah lulus, apakah bisa dapat kerja atau tidak, jurusan apa bukanlah faktor utamanya. Kamu bisa apa akan jadi lebih penting, bukan? Mempelajari hal yang paling disukai, mungkin bisa disetarakan dengan kata-kata Kang Emil: menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah hal paling enak di dunia.

Tentu tidak salah kalau memilih jurusan kuliah dengan mempertimbangkan peluang kerjanya setelah lulus. Tapi, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai demi mengejar peluang kerja, kita mengesampingkan potensi diri sendiri. Semasa SMA, saya anak IPA, kalau mempertimbangkan itu, barangkali saya memilih kuliah jurusan IPA. Tapi, saya tahu, potensi saya lebih besar di Sosial Politik, atas dasar itulah saya pindah haluan.

Begitu pula ketika memilih jurusan sekarang. Namanya panjang. Jurusannya, International Development, pathway atau prodi-nya, adalah Politics, Governance and Development Policy. Singkat kata, jurusan sekarang sangat linear dengan jurusan saya semasa Sarjana. Alasan memilihnya? Karena saya tahu di situlah minat saya. Ya, selain potensi, penting sekali mempertimbangkan minat. Kuliah adalah komitmen jangka panjang. Bagi saya, adalah wajib memilih jurusan yang tidak membuat saya bosan berurusan dengannya!

Soal peluang kerja, ada yang bertanya kenapa saya memilih jurusan sekarang. Katanya, tidak 100% linear dengan jurusan saya semasa Sarjana, dan itu akan menjadi hambatan bagi beberapa peluang kerja (padahal sebenarnya linear, tapi jurusan di luar negeri macamnya banyak sekali, bisa beda-beda nama). Tapi, bagi saya, kuliah bukan semata-mata untuk mencari kerja. Kuliah adalah ladang mencari ilmu, ilmu yang kita ingin dalami, ilmu yang ingin kita jadikan sebagai bagian dari hidup kita. Lagi-lagi bagi saya, tidak penting saya akan menjadi apa (saya tidak punya impian ingin jadi apa, tapi saya punya impian ingin melakukan apa, apalah artinya sebuah status 😛 ).
Yang terpenting adalah apapun saya menjadi (bahkan andaipun tidak menjadi apa-apa), saya bisa melakukan apa yang telah saya pilih sebagai bidang saya. Tapi, itulah pemikiran saya, seseorang yang sering dibilang “hidup seenak sendiri”, seseorang yang belajar hanya demi mendapat pelajaran 😛 (Meski kebermanfaatan ilmu dalam dunia praktik itu penting, mendalami ilmu semata-mata sebagai ilmu juga tidak kalah pentingnya. Mungkin karena ilmu memiliki ketiga ontologi, epistemologi dan aksiologi sekaligus) LOL

Potensi dan minat, itulah pertimbangan terpenting, bagi saya, kalau tidak setuju tentu boleh. Mumpung tidak setuju masih gratis! Bagi yang memilih demi peluang pekerjaan di masa depan, tentu tidak ada yang bisa menyalahkan. Meskipun, tentu harus hati-hati. Misalnya, cerita fenomenal ini disampaikan oleh ayah saya. Yaitu, ketika teman-teman beliau menyekolahkan anak-anaknya di Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa, karena katanya sekolah-sekolah kekurangan guru Bahasa Jawa. Seiring dengan pergantian menteri, saat putra-putri mereka lulus, Bahasa Jawa dihapuskan dari kurikulum. Mereka pun kecewa.

Tapi apapun pertimbangan memilihnya, mungkin yang terpenting adalah, mengutip kata-kata ayah saya,”pilihlah sendiri, karena kau yang menjalaninya!” Ini penting bagi orangtua sih, jangan terlalu ambisius, jangan asal memasukkan anak ke kampus bergengsi dan memilih jurusan “elit”, tapi perhatikan potensi dan minat si anak, mampukah dia di situ? Dapatkah dia berkembang di situ? Apakah dia akan bahagia menjalani itu?

Continue reading

Posted in Opini, Postgraduate, Scholarship, Uncategorized | Leave a comment