[Review] The Winner Stands Alone – Pemenang Berdiri Sendirian – Paulo Coelho

Setelah lebih dari dua minggu selesai membacanya, baru kali ini saya menyempatkan diri menulis review.  Sebenarnya saya sedang lebih ingin menulis review buku Paulo Coelho yang ditulis Juan Arias tetapi ada yang bilang save the best for the last jadi yang saya inginkan akan saya tulis di belakang, berharap kemauan terus berkobar demi mencapai apa yang sudah ingin saya tuliskan.

Sederhananya, The Winner Stands Alone atau Sang Pemenang Berdiri Sendirian merupakan novel Coelho yang tidak biasa. Penulis Brazil ini lebih sering mengangkat cerita yang berkaitan dengan petualangan, secara fisik, mental, dan spiritual, tetapi novel ini, seperti halnya novelnya yang Eleven Minutes bertema lebih gelap. Mengambil latar di Festival Film Cannes, Coelho menyoroti manusia dari sudut pandang yang paling menyedihkan tapi sangat manusiawi. Ketika pembaca hendak bersedih atau bersimpati pada tokoh-tokohnya, saat itulah pembaca seperti disadarkan, apa yang ditulis Coelho tak lebih dari fenomena yang sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kita masing-masing.

Cerita berpusat pada seorang pria kaya dari Rusia, Igor, yang datang ke Festival Film Cannes bermaksud untuk menghancurkan dunia orang lain demi menginginkan mantan istrinya kembali. Festival internasional tersebut dikisahkan sebagai sebuah panggung penentuan nasib bagi banyak orang. Para wanita muda yang bermimpi menjadi artis. Wanita muda yang ingin mendapatkan kontrak. Artis terkenal yang meratapi nasib karena sudah menua dan tak disanjung setinggi masa kejayaan mereka. Para produser yang berlagak congkak karena menjadi manusia paling dicari. Beragam rupa keputusasaan sekaligus harapan-harapan manusia bercampur dalam festival film tersebut.

The Winner Stands Alone, 472 halaman, diterbitkan oleh GPU tahun 2009. Saya membelinya seharga 65.000

The Winner Stands Alone, 472 halaman, diterbitkan oleh GPU tahun 2009. Saya membelinya seharga 65.000

Igor tahu bahwa mantan istrinya, Ewa, yang menjadi pemilik butik haute couture akan datang bersama suami barunya, Hamid, desainer yang sedang berada di puncak kejayaannya. Dalam perjalanannya memperingatkan Ewa bahwa ia mampu menghancurkan dunia agar Ewa kembali, Igor melakukan serangkaian pembunuhan. Korbannya ia pilih secara acak, beragam usia, beragam latar belakang, berbeda jenis kelamin, dan berbeda negara asal sehingga kepolisian setempat mengalami kesulitan menemukan motif pembunuhan berantai tersebut. Di tengah kekhawatiran terbongkarnya skandal besar, Festival Film Cannes yang populer di dunia diwarnai pembunuhan, polisi juga menghadapi kenyataan bahwa pembunuhnya merupakan orang kaya dan terlatih, terlihat dari cara pembunuhannya yang berbeda dari satu korban ke korban lain, menggunakan teknik tinggi dan biaya besar.

Tidak seperti novel thriller, pembunuhan di sini tidak memunculkan kesan keji. Di sinilah kekuatan Coelho sangat muncul. Entah bagaimana, Igor, dengan kegilaannya itu, dengan pembunuhannya yang tak kenal ampun, terkesan sangat manusiawi. Ia menjalankan aktivitas seperti manusia pada umumnya. Ia membuat iri orang lain, para penganut kepalsuan yang menjadi mayoritas pengunjung Cannes pada saat festival, karena Igor tampak menikmati dunianya sendiri tanpa perlu memperhatikan pandangan orang lain. Saat melakukan satu pembunuhan ke pembunuhan lain, Igor pun selalu bertanya-tanya, pantaskah Ewa mendapatkan semuanya? Pantaskah Igor menghancurkan dunia demi wanita itu?

Pada suatu titik tertentu, saya justru bisa menjadi sangat bersimpatik pada Igor. Membuat saya berpikir bahwa pembunuh berantai memiliki masalah juga, memiliki kegundahan, memiliki pertimbangan benar salah, sekaligus memiliki pembenaran atas tindakannya. Igor, misalnya, memilih menghancurkan dunia karena ia yang telah begitu sukses setelah berjuang keras dari bawah, merasa hidup sendirian begitu Ewa meninggalkannya. Memangnya apa salahnya? Ia telah memberikan segalanya untuk Ewa, mengapa wanita itu meninggalkannya?

Saya sempat berpikir, Ewa bersalah karena wanita itu tahu Igor akan terguncang seandainya ia meninggalkannya. Namun, lagi-lagi Coelho menerobos judgment umum tentang benar salah. Ketika diceritakan sisi Ewa, pembaca juga tidak akan mampu menuduh Ewa bersalah. Wanita itu mencintai Igor, tetapi setelah sekian tahun ia tidak mampu lagi mengenali suaminya. Igor berubah menjadi berhati dingin yang obsesif terhadap dirinya. Orang yang tak sengaja menyentuh Ewa dapat berakhir meregang nyawa di tangan Igor dan Igor tidak pernah menyesal telah melakukannya. Hal itu membuat Ewa tidak sanggup bertahan bersama Igor, sekalipun ia tahu Igor mengalami hal berat karena perang dan akan menjadi semakin berat ketika pria itu ditinggal sendirian. Saya lantas berpikir, adilkah kita meminta Ewa bertahan bersama Igor agar tidak terjadi pembunuhan berantai itu? Pertanyaan sulit. Dilematis.

Paulo-Coelho-The-Winner-Stands-Alone

Penulisan tokoh-tokohnya yang manusiawi, sisi gelap yang diimbangi sisi terang dan sebaliknya, membuat saya tidak tahu siapa tokoh antagonis siapa tokoh protagonis dalam novel ini. Semuanya sama. Bahwa manusia memiliki sisi baik dan buruk. Igor yang tampaknya sinting dan melakukan pembunuhan tampak sangat manusiawi di tangan Coelho. Novel ini, tentu saja, tidak membenarkan segala tindakan manusia yang merusak atau menghancurkan dunia orang lain, tetapi mengajak pembaca untuk memiliki perspektif bahwa dari yang terburuk terdapat kebaikan dan dari yang terbaik terdapat keburukan. Saya mendapat kesan ini karena saya telah membaca novel Coelho lainnya, Iblis dan Miss Prym yang di dalamnya Coelho berargumen bahwa manusia memiliki sisi baik dan jahat, lalu mana yang akan jadi pemenang hanya soal pilihan kita memilih untuk jadi baik atau jahat.

Pertanyaan-pertanyaan Igor tentang kelayakan Ewa mendapatkan dunia-dunia orang lain hancur hanya untuk dirinya merupakan pertanda bahwa Igor sendiri memiliki perdebatan baik dan jahat dalam dirinya. Coelho menutup novel ini dengan manis, tidak tuntas atau tidak seru jika dilihat dari sudut pandang novel thriller, tapi cukup menggambarkan nilai yang hendak dijadikan argumen Coelho dalam novel ini. Bahwa hanya dengan menebus kesalahan manusia dapat menjadi pemenang, yang tidak berdiri sendirian.

Coelho bukan penulis dengan imajinasi dan plot terbaik, bahkan tulisannya sering jadi objek kritikan pedas kritikus sastra, tetapi Coelho adalah penulis yang unggul dalam mengisahkan sesuatu yang paling manusiawi, yang semua orang tahu, yang tidak ada kebaruan di dalamnya, dengan cara yang begitu apik. Dalam buku Juan Arias yang akan saya review setelah ini, Coelho mengatakan bahwa apa yang ia tulis adalah bagian dari kesadaran kolektif manusia. Tak heran, meski novel ini menurut saya tidak semenarik novel Coelho lainnya, tema dan nilai-nilai yang disuarakannya tetap konsisten dan dibalut dalam bahasa sederhana. Mudah dimengerti tetapi menuntun pada perenungan panjang, khas Coelho!

About endahanomsari

Read. Write. Talk.
This entry was posted in Book Reviews and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s